Robbani

Ateisme

In Barat, ateisme, psikologi on Maret 10, 2009 at 1:14 am

AKAR DAN SEJARAH ATEISME
Kata ateisme (atheism) berakar dari dua kata bahasa Yunani, ”a” yang berarti tanpa atau tidak dan ”theos” yang berarti tuhan. Seorang ateis (atheist), berdasarkan akar katanya, adalah orang tanpa keimanan pada Tuhan; tidak harus meyakini bahwa Tuhan tidak ada. Meski demikian beberapa kamus mendefinisikan ateisme sebagai keyakinan tidak ada tuhan. Untuk menghindari kebingungan, beberapa orang membedakan antara ateisme positif dan ateisme negatif. Yang pertama merujuk pada negasi keberadaan tuhan, sementara yang kedua berarti hidup ’tanpa tuhan’, sesuai dengan akar Yunani kata tersebut. Sebagai lawan dari ateisme biasanya digunakan kata teisme (theism) yang diartikan sebagai keimanan pada Tuhan personal yang aktif penciptaan makhluk dan menurunkan wahyu. Dengan demikian, ateisme adalah kebalikan dari deisme, yang menganggap tuhan tidak lagi berperan dalam penciptaan, dan panteisme yang percaya bahwa tuhan sama dengan alam semesta. Ateisme negatif, secara luas, adalah ketidakpedulian terhadap persoalan eksistensi tuhan, yang mencakup tidak hanya tuhan teistik saja. Ateisme positif, di sisi lain, adalah ketidakpercayaan aktif terhadap semua tuhan. atau tuhan teistik saja. Untuk memertahankan konsep ateisme positif, dalam makna diatas, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama alasan-alasan untuk percaya pada tuhan teistik harus ditolak, dan, kedua, alasan-alasan untuk tidak percaya pada tuhan teistik mesti dijabarkan.

Teori Kritis, Adorno, dan Habermas

In Barat, Filsafat, Makalah, Tokoh, teori kritis on Maret 10, 2009 at 1:03 am

Teori kritis adalah sebutan untuk orientasi teoritis tertentu yang bersumber dari Hegel dan Marx, disistematisasi oleh Horkheimer dan sejawatnya di Institut Penelitian Sosial di Frankfurt, dan dikembangkan oleh Habermas. Secara umum istilah ini merujuk pada elemen kritik dalam filsafat Jerman yang dimulai dengan pembacaan kritis Hegel terhadap Kant. Secara lebih khusus, teori kritis terkait dengan orientasi tertentu terhadap filsafat yang ”dilahirkan” di Frankfurt.
Sekelompok orang yang kemudian dikenal sebagai anggota Mazhab Frankfurt adalah teoritisi yang mengembangkan analisis tentang perubahan dalam masyarakat kapitalis Barat, yang merupakan kelanjutan dari teori klasik Marx. Mereka yang bekerja institut penelitian ini diantaranya Max Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse dan Erich Fromm di akhir tahun 20-an dan awal tahun 30-an. Setelah berpindah ke Amerika Serikat karena tekanan Nazi, para anggota Mazhab Frankfurt menyaksikan secara langsung budaya media yang mencakup film, musik, radio, televisi, dan budaya massa lainnya. Di Amerika saat itu, produksi media hiburan dikontrol oleh korporasi-korporasi besar tanpa ada campur tangan negara. Hal ini memunculkan budaya massa komersial, yang merupakan ciri masyarakat kapitalis dan, kemudian, menjadi fokus studi budaya kritis. Horkheimer dan Adorno mengembangkan diskusi tentang apa yang disebut ”industri kebudayaan” yang merupakan sebutan untuk industrialisasi dan komersialisasi budaya dibawah hubungan produksi kapitalis.
Tokoh lain yang kemudian menjadi identik dengan teori kritis adalah Jurgen Habermas. Dia bergabung dengan Institut Penelitian Sosial di universitas Frankfurt, yang didirikan kembali oleh Horkheimer dan Adorno, pada dekade pasca perang dunia kedua. Tulisan ini berusaha memaparkan teori kritis dengan membaca pikiran Adorno dan Habermas. Yang pertama mewakili generasi ’pendiri’ teori kritis, sedang yang kedua adalah penerus yang membaca dan mengkontekstualisasi ulang teori kritis di zaman yang lazim di sebut posmodern. Sebagai pengantar akan lebih dahulu dipaparkan posisi teori kritis dalam konteks pemikiran filsafat.

Bangsamoro, Minoritas Muslim Filipina

In Area Studies, Bangsamoro, Islam, Makalah, Muslim on Februari 7, 2009 at 6:35 am

Tidak seperti tetangganya, Muslim Filipina adalah minoritas. Penduduk Filipina menurut perkiraan tahun 2002 berjumlah 84.525.639 orang yang tersebar di lebih dari tiga ratus pulau berpenduduk dan berbicara menggunakan delapan puluh tujuh dialek lokal. Dari jumlah itu hanya sekitar lima persen yang tercatat sebagai Muslim. Hal ini berdampak pada kondisi sosio-politik Muslim Filipina. Secara politik mereka tidak bisa menentukan pilihan politiknya, demikian pula secara sosial.
Tanpa berpretensi melakukan kajian ekstensif, tulisan sederhana ini mencoba mendeskripsikan Bangsamoro, yang merupakan sebutan bagi umat Islam yang tinggal di Filipina bagian selatan. Tulisan ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama menyediakan informasi yang relevan seputar kedatangan Islam ke Filipina, terutama bagian selatan, yang kemudian membentuk apa yang kemudian disebut Bangsamoro. Bagian kedua menjelaskan kondisi Muslim di Filipina selatan, terutama dalam hubungannya dengan pemerintah Manila.