Robbani

Arsip untuk ‘1’ Kategori

MENELUSURI AKAR PENYIMPANGAN PEMIKIRAN ISLAM MODERN: Lebih Dekat dengan Rifa’ah Rafi’ al-Thahthawi

In 1 on November 18, 2009 at 7:05 pm

Tajuk diatas tidak dimaksudkan untuk mengidentifikasi Rifa’ah al-Thahthawi sebagai akar penyimpangan pemikiran Islam modern, sebagaimana kesan mula-mula. Judul ini lebih karena mengikuti judul buku darimana tulisan ini berasal. Artikel dibawah ini disarikan dari bagian awal buku yang ditulis Jamal Sulthan berjudul Judzur al-Inhiraf fi al-Fikr al-Islami al-Hadits. Pemilihan Rifa’ah al-Thahthawi kiranya dapat dimengerti. Dialah orang pertama dari masyarakat Muslim yang mula-mula berkenalan dan ”berguru” secara langsung kepada peradaban Barat. Dengan mengenal profilnya, diharapkan kita menjadi lebih sadar peradaban, secara internal maupun eksternal, dalam membaca apapun yang kita baca.
Read the rest of this entry »

Mempersoalkan definisi: Review Buku The Problem of Definition in Islamic Logic

In 1 on November 17, 2008 at 7:25 am

Zainal Abidin Baqir. The Problem of Definition in Islamic Logic: A Study of Abu al-Naja al-Farid’s Kasr al-Mantiq in comparison with Ibn Taimiyyah’s kitab al-Radd ala al-Mantiqiyyin. ISTAC Master’s Theses Series volume I. Kuala Lumpur: ISTAC 1998. pp. ix + 89. General Editor: Sharifah Shifa al-Attas. ISBN: 983-9379-04-6

LATAR BELAKANG
Sebagai sebuah disiplin ilmu, logika, khususnya dan filsafat secara umum, pada mulanya tidak diterima secara bulat oleh para ulama Islam. Karenanya, dalam beberapa penelitian, termasuk karya ini, penamaan logika Islam, terutama dalam kaitannya dengan perkembangan awal, hanya merujuk pada periode dimana pengembangan logika dilakukan oleh orang Islam atau dalam lingkungan intelektual yang didukung oleh pemerintahan Muslim.
Dalam perkembangannya, logika, dan filsafat pada umumnya, mendapat kritik-kritik dari para ulama. Sifat kritik yang dilancarkan itu sendiri beragam. Ada diantara para pengritik yang menggunakan alasan keagamaan sebagai alasan penolakan terhadap logika, disamping pula terdapat kritik yang dilakukan dengan objektif yang dilakukan justru untuk perkembangan logika itu sendiri.
Kajian tentang kritik terhadap logika jarang ditulis oleh para peneliti dan jikapun ada, penulisannya, pada umumnya lebih menekankan pada aspek sosiologis kritik itu, dalam kaitannya dengan kemunduran kajian saintifik dan filosofis di dunia Islam pada. Seperti yang bisa ditemukan pada karya Ignaz Goldziher The Attitude of Orthodox Islam ‘Ancient Sciences’ yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1915. dka
Karena itu, dalam buku ini, yang pada mulanya merupakan tesis S-2 di ISTAC Malaysia, penulis memilih untuk menganalisis kritik-kritik terhadap logika dengan penekanan pada kandungan kritik itu sendiri.
Read the rest of this entry »

The Problem of Definition in Islamic Logic (Review Buku)

In 1 on November 17, 2008 at 6:48 am

Zainal Abidin Baqir. The Problem of Definition in Islamic Logic. ISTAC Master’s Theses Series volume I. Kuala Lumpur: ISTAC 1998. pp. ix + 89.

Hubungan antara filsafat dan Islam seolah tak pernah usai diperbincangkan, utamanya tentang masa permulaan disaat filsafat Yunani mulai diperkenalkan kepada kaum muslimin. Hal ini erat kaitannya dengan posisi filsafat dalam Islam. Hal demikian berlaku pula bagi logika; salah satu cabang filsafat, yang oleh sementara ulama Islam kemudian ‘dibersihkan’ dari unsur-unsur filsafat yang dianggap membahayakan akidah Islam. Sebenarnya, perdebatan seputar kebolehan mengkaji logika seusia dengan masuknya ilmu tersebut kedalam peradaban Islam.

Dalam pengantarnya, penulis mendiskusikan motif-motif yang mendasari, dan poin-poin, kritik. Setidaknya ada dua motif yang mendorong ulama untuk mengritik logika. Pertama, kritik yang berusaha meruntuhkan logika sebagai sebuah disiplin. Kritik ini didasari oleh alasan keagamaan; yakni kekhawatiran bahwa logika akan menggantikan kedudukan Al-Quran sebagai kitab petunjuk. Yang termasuk golongan pertama ini misalnya Abu al-Naja al-Farid dan Ibn Taymiyah, yang merupakan sentral kajian penulisan tesis ini. Kedua, kritik yang dilontarkan oleh ulama yang memiliki kecenderungan filosofis, namun sangat berbeda dengan para filosof aliran tradisional seperti Al-Farabi dan Ibn Sina. Dalam golongan ini termasuk Fakhr al-Din al-Razi dan Suhrawardi. Tentang sasaran kritik terhadap logika, penulis menjelaskan setidaknya ada tiga poin penting yang menjadi bahan kritik utama. Pertama, logika sebagai satu-satunya sarana untuk memeroleh pengetahuan. Kedua, konsistensi logika sebagaimana yang dijelaskan oleh ahli logika. Ketiga, kritik berkaitan dengan persoalan-persoalan epistemologis yang utamanya berhubungan dengan definisi.
Read the rest of this entry »

Tentang Sumber-Sumber Pengetahuan: Antara Barat dan Islam

In 1 on November 17, 2008 at 6:46 am

Perjumpaan antar peradaban merupakan sesuatu yang niscaya dalam era globalisasi. Setiap peradaban membawa cara pandangnya masing-masing. Cara pandang yang kemudian dipengaruhi—dan berpengaruh kepada—banyak hal, diantaranya sikap ilmiah. Peradaban Islam misalnya, yang cara pandang dan pola hidupnya dipengaruhi oleh wahyu.
Dalam konteks ilmiah, Islam yang disokong oleh wahyu tentu akan memiliki sikap yang berbeda dengan peradaban Barat yang memandang wahyu sebagai sesuatu yang tidak saintifik. Dalam tataran epistemologis, perbedaan cara pandang ini jelas terlihat ketika dihadapkan pada persoalan sumber-sumber pengetahuan. Makalah sederhana ini mencoba membandingkan pandangan Barat dan Islami menyangkut sumber-sumber pengetahuan manusia.

Read the rest of this entry »

Tahmid

In 1 on Oktober 8, 2008 at 3:51 am

Segala puji hanya untuk Sang Pemilik takdir. laHul hamdu fil ula wal akhirah wa ilayhi turja’un. inna liLlah wa inna ilayhi raji’un.

listen to this.

Komunikasi Intrapersonal: Sebuah Pengantar

In 1, Islam, Makalah on Maret 30, 2008 at 5:33 am

PENDAHULUAN

Sebagai makhluk yang berpikir dan, karenanya, berbicara, komunikasi bagi manusia merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Komunikasi baginya adalah sarana untuk berinteraksi dengan ”yang diluar dirinya”. Terlebih saat ini, dengan percepatan teknologi tanpa henti, utamanya teknologi informasi, komunikasi adalah sebuah keniscayaan.
Dalam pengertian sederhana, komunikasi dapat diartikan sebagai penyampaian ”sesuatu yang sama” dari ”satu pihak” kepada ”pihak lain”. Dari sini, setidaknya, ada empat hal yang dibutuhkan dalam komunikasi; penyampaian atau yang dapat dipahami sebagai proses komunikasi; sesuatu yang sama atau pesan yang ingin disampaikan; pihak pertama (komunikator) yang berkepentingan untuk menyampaikan pesan dimaksud; dan pihak kedua (komunikan) yang menjadi tujuan penyampaian pesan. Dengan analisis yang lebih mendalam dapat diketahui bahwa pesan yang merupakan inti komunikasi terdiri dari dua aspek; isi pesan yang ingin disampaikan (the content of the message) dan lambang yang dijadikan sarana untuk menyampaikan pesan tersebut (symbol).
Read the rest of this entry »

In 1 on November 17, 2007 at 12:44 pm