Robbani

Pesantren dan Suksesi Kepemimpinan

In Opini, Pesantren on Juli 31, 2007 at 12:52 pm

Pesantren, dalam sejarahnya, tidak lepas dari sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren menjadi lembaga ’penyedia’ penerus estafet dakwah Islam. Sebagai pusat penyebaran Islam—untuk menyebutnya demikian—peran utama pesantren terletak terutama pada kemampuannya untuk mengenalkan Islam pada masyarakat luas. Dalam ’pemasyarakatan’ Islam, ia terbilang cukup berhasil. Bahwa mayoritas masyarakat Indonesia, terutama masyarakat pedesaan, berislam dengan ”Islam pesantren” kiranya cukup menjadi bukti keberhasilan islamisasi ala pesantren.

Kepemimpinan pesantren secara umum diterima sebagai sesuatu yang bersifat warisan. Artinya ia dilanjutkan oleh orang terdekat—sering secara biologis—dengan pimpinan sebelumnya. Hal ini memiliki implikasi positif maupun negatif—seperti kebanyakan hal di dunia ini . Obrolan dalam tulisan ini akan lebih difokuskan pada dampak negatif dari pola kepemimpinan yang demikian.

***

Sebagai lembaga ’pembumian’ Islam di masyarakat, pemimpin pesantren setidaknya membutuhkan dua kriteria untuk menjalankan fungsi pesantren secara maksimal. Dua hal itu adalah kapasitas keilmuan dan dedikasi tinggi pada masyarakat yang menjadi objek dakwahnya.

Keilmuan yang memadai penting dimiliki oleh pemimpin pesantren karena tugas yang ia emban tidak mungkin dilaksanakan tanpa kapasitas ilmiah yang memadai. Kedua, pemimpin pesantren haruslah seseorang yang memiliki kemampuan mengomunikasikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat, disamping pula dedikasi tinggi untuk mengislamkan masyarakat—dalam maknanya yang paling luas.

***

Persoalan terjadi ketika terdapat seorang suksesor tradisional (baca: gus, lora) yang tidak memiliki kapasitas yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin pesanteren. Ia terpaksa—atau dalam beberapa kasus memaksa—menjadi pemimpin pesantren karena tradisi yang telah lama berjalan di masyarakat mengharuskan ia menjadi pemimpin. Tradisi ini terus berjalan karena anggapan umum bahwa kepemimpinan pesantren adalah kepemimpinan-berdasar-keturunan. Tapi bila kita menilik bahwa fungsi utama pesantren adalah lembaga pembumian nilai-nilai Islam di masyarakat, pemimpin pesantren haruslah dipilih berdasar kompetensi keilmuannya dan dedikasinya pada masyarakat.

***

Bahwa selama ini pemimpin pesantren selama ini berasal dari keluarga dekat pemimpin sebelumnya bukan masalah bila ia memiliki kapasitas yang dibutuhkan. Tapi keterkaitan keluarga dengan pemimpin sebelumnya tidak boleh menjadi satu-satunya standar dalam suksesi kepemimpinan pesantren.

  1. ada yang mengatakan bahwa pesantren wakaf yang tidak memiliki sistem sebagaimana yang antum bahas di tulisan ini, lebih baik dari pesantren salaf yang kepemimpinannya seperti kerajaan.

  2. Trus gimana,gus? Kok nggantung gitu tulisannya.Sido pora?

  3. I actually Feel blog post, “Pesantren dan Suksesi Kepemimpinan | i love silence” was really good!
    I reallycouldn’t see eye to eye with you more! Finally seems like I actuallylocated a internet site definitely worth browsing. I appreciate it, Teddy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: