Robbani

Kuliah di Perguruan Tinggi

In Indonesia, Kuliah, Opini, Pesantren on Januari 22, 2008 at 5:17 am

Melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, bagi sebagian besar masayarakat Indonesia, apapun latar belakang sosialnya, kini, telah menjadi sejenis keharusan. Entah bagaimana, hal ini seolah-olah menjadi suatu hal yang begitu tak terhindarkan saat ini. Dalam beberapa kasus, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berarti usaha penjaminan masa depan setidaknya dari dua segi, finansial dan sosial. Yang pertama berarti bahwa dengan memasuki perguruan tinggi—khususnya yang bersifat keahlian—seseorang akan diharapkan untuk memiliki keahlian yang kelak akan menjamin masa depannya kelak. Dari segi sosial, menjadi seorang mahasiswa memiliki dampak yang yang tidak sedikit bagi masyarakat kita, karena, entah begaimana, dia dianggap sebagai orang terdidik yang memiliki ’kelas tersendiri’ di tengah masyarakat.

Bagi seorang santri, seseorang yang diharapkan memiliki kesadaran beragama lebih baik daripada masyarakat awam, kuliah seharusnya berarti bertambah luasnya cakrawala berpikir. Pada masa kuliah, dia dituntut untuk lebih bisa memutuskan banyak hal menurut pertimbangannya sendiri. Belajar mengambil keputusan sendiri dan membuat pilihan yang baik itulah salah satu pelajaran yang bisa seorang santri petik ketika belajar di perguruan tinggi, setelah sebelumnya dia dibentuk sedemikian rupa dalam pesantren. Pembentukan seorang santri, untuk menyebutnya demikian, dalam pesantren tentulah berorientasi untuk membentuk santri beragama yang memiliki komitmen ilmiah dan amaliah terhadap ajaran agamanya. Tentu saja komitmen ilmiah ini tergantung kepada pilihan studi santri yang bersangkutan.

Hanya saja, kenyataan tidaklah selalu berbanding lurus dengan harapan yang ditetapkan. Santri di perguruan tinggi, perguruan tinggi Islam misalnya, tidaklah selalu memperlihatkan ciri kesantriannya. Yang saya maksud disini bukanlah ciri fisikal yang kasat mata, bersarung misalnya, tapi lebih kepada ciri perilaku keseharian. Dalam beberapa kasus, seorang santri, dalam perilaku sehari-hari, tampak lebih tidak ’nyantri’ daripada orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren. Dia tampak lebih sering menyerupai (maaf) terpidana yang lepas dari penjara dan merasakan kebebasan untuk kemudian menggunakannya secara tidak bertanggung jawab. Penanaman nilai moral keagamaan yang selama bertahun-tahun dilakukan seolah menguap begitu saja saat dia memasuki bangku kuliah.

Tentu saja ada banyak pengecualian dari kasus diatas. Namun setidaknya demikianlah gambaran sebagian teman kita yang berkuliah. Untuk mengantisipasi hal itu, seorang santri perlu memersiapkan sedini mungkin hal-hal yang diperlukan untuk menyongsong masa belajar di perguruan tinggi.

Ketika dipesantren, seorang santri seharusnya sadar bahwa belajar di pesantren hanya merupakan salah satu tahapan belajar. Karenanya dia harus memaksimalkan potensi dan daya yang dimiliki untuk menyerap hal-hal berguna yang ada di pesantren. Dia tidak perlu terlalu memikirkan hal lain diluar yang dia pelajari di pesantren. Melakukan hal ini –dalam banyak kasus—hanya akan menguras tenaga seseorang yang berakibat pada berkurangnya energi belajar. Belajar di pesantren tidak hanya berarti belajar ilmu-ilmu, dalam arti pelajaran disekolah atau di asrama. Yang tidak kalah pentingnya adalah ’ilmu hidup’ yang hanya bisa dia dapatkan apabila dia merenungi dan memikirkan yang dia hadapi sembari menerapkan ilmu-ilmu (akhlak dan lain-lain) yang dia pelajari dari kitab dan buku. Karena menerapkan dan mengamalkan ilmu di pesantren jauh lebih mudah dibanding dengan di luar pesantren. Dan jika pengamalan ilmu itu telah mendarah daging, maka hal itu akan menjadi benteng moral yang kuat. Mempelajari setiap pelajaran yang disukai dan dipilih, apapun itu, dengan serius. Hal ini akan menjadi dasar kelak ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa dan memohon doa kepada orang tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: