Robbani

Gus dan Cinta

In Cinta, Kuliah, Lora n Gus, Opini, Pesantren, Wanita on Februari 26, 2008 at 12:20 pm

Tulisan ini ingin saya buat ketika saya membaca sebuah bagian menarik dari buku Greg Barton tentang biografi Gus Dur. Untuk lebih memperjelas bagian yang ‘memancing’ tulisan ini, ada baiknya saya kutipkan satu bagian itu saja. Bagian itu berbunyi “Terlebih lagi, ia tinggal dalam suatu dunia keagamaan yang secara nyata tidak menyetujui pemuda-pemuda yang cemerlang untuk bercinta dalam usia muda.” Selanjutnya, yang juga mengusik tulisan ini untuk muncul, Barton menulis, “Boleh dikatakan, semangat pemberontakan yang ada dalam dirinya disalurkan lewat kedekatannya yang sangat singkat dengan Islam radikal.”
Ada hal menarik yang-mungkin-spontan menarik perhatian saya dari dua bagian dari buku Barton itu. Hal itu adalah dunia keagamaan (dalam konteks ini adalah pesantren tradisional), pemuda-pemuda yang (dianggap) cemerlang (atau setidaknya berpotensi untuk hal itu), cinta (ada yang perlu definisi ), dan usia muda. Kemudian yang menarik dari kutipan bagian kedua adalah semangat pemberontakan jika dikaitkan dengan hal-hal yang tadi disebut.

Sesuatu yang menarik seringkali merupakan suatu hal yang memiliki keterkaitan tertentu. Dalam tulisan ini pernyataan di depan menemukan relevansinya, tentang seseorang yang tinggal seruangan dengan saya. Dia sebaya dengan saya tapi saya lebih muda.

Tulisan Barton diatas mengingatkan saya akan ‘kasus’ yang menimpa teman saya itu. Sebagai seorang yang tinggal dalam-seperti yang ditulis Barton-dunia keagaman, teman saya itu tidak memiliki cukup kebebasan untuk bergaul secara bebas dengan lawan jenis, satu hal yang menjadi ciri pesantren. Baiknya, dia sama sekali tidak keberatan dengan hal ini. Sebaliknya perasaan nyaman dia rasakan dan menyetujui.

Sayangnya sejalan perjalanan waktu, dia kemudian berada di suatu tempat yang tidak seperti yang didalamnya dia merasa nyaman itu, dan di lingkungan baru itu saya berkenalan dengannya. Selanjutnya-entah apa yang direncanakan Tuhan untuknya-dia menyukai (pada mulanya-kemudian mencinta) seseorang disitu. Secara umum dia orang yang cukup baik untuk tidak berbuat sesuatu yang diluar yang diharapkan oleh orang-orang pesantren pada umumnya.

Setahu saya, salah satu inspirasinya adalah novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el-Shirazy, yang dengan itu, seperti yang dikatakannya, ia semakin yakin bahwa cinta yang dirangkai dengan aturan Tuhan (begitu katanya) akan jauh, jauh, jauh lebih indah. Penekanan yang saya berikan disini tidaklah berlebihan dibanding apa yang selalu ditegaskannya berulang-ulang.

Kemudian dia-dan ‘teman’nya-berkomitmen untuk menjalani hubungan mereka sesuai dengan apa yang selama ini menjadi inspirasinya. Meskipun kesepakatan ini dicapai dengan tahapan yang tidak semudah kelihatannya. Mengejutkan juga ketika mengetahui dia memiliki hubungan khusus dengan seorang wanita, mengingat dia adalah seseorang yang memiliki ‘kecanggungan alamiah’ untuk berhubungan dengan wanita-yang hal itu saya ketahui terjadi sampai saat ini. Tapi kekagetan saya itu agak berkurang saat saya tahu bahwa ideal wanita yang dia inginkan tidak terlalu jauh dari wanita yang ini, setidaknya itulah pengakuannya.

Menurut yang diceritakannya pada saya, ketika dia mencintai seorang wanita-sebagai wanita-dia memikirkan untuk memilih salah satu dari dua hal, menikahinya atau menjauhinya. Dia beralasan, karena pernikahanlah satu-satunya hubungan pria-wanita yang halal. Dia tidak ingin berhubungan dengan wanita, sebagai wanita, kecuali hubungan profesional, sebelum dia menikah. Suatu hal yang ‘mendukungnya’ untuk semakin canggung terhadap wanita.

Referensinya dalam menentukan kriteria wanita adalah, sesuai idealnya, Al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Dia menekankan bahwa empat syarat yang disebutkan dalam hadits Nabi (kecantikan, keturunan, kekayaan, dan agama) tidaklah berlaku sejajar dan terpisah. Artinya, dia menguraikan, bahwa hanya standar agamalah satu-satunya yang menjadi pengukur bagi lainnya. Kecantikan yang dimiliki oleh orang yang tidak-atau kurang-beragama tidak seharusnya mendorong seorang pria untuk menikahi wanita. Untuk keturunan, dalam pandangannya, tidak harus seorang wanita dari keturunan ‘darah biru dunia keagamaan’, yang terpenting adalah bahwa orang tua wanita itu haruslah memiliki komitmen keagamaan yang baik. Tentang kekayaan, dia tidak menjadikannya sebagai standar, karena menurutnya hal itu bisa saja membuat seorang wanita merasa “cukup berharga” untuk kemudian tidak menghargai suaminya; tentu saja, sekali lagi, ini dapat terjadi hanya pada wanita yang tidak-atau kurang-beragama. Tapi dia tidak menolak kemungkinan bahwa wanita kaya, dan kekayaan secara umum, jika berada di tangan yang tepat, dapat menjadi ladang kebaikan yang sangat luas.

Beruntung sekali dia, tidak lama setelah dia membuat komitmen ini, dia mengetahui bahwa, ternyata, proses pra-nikah (khitbah/pertunangan) dapat dilakukan tanpa melibatkan orang tua (tentang hal ini dia menunjukkan pada saya bahwa ini merupakan pendapat, misalnya, Wahbah Zuhaili dalam bukunya al-Fiqh al-Islami). Hal ini langsung dia beritahukan kepada ‘temannya’ dan langsung dipraktekkan . Hal ini menjadi penting bagi teman saya itu karena sebuah konsekuensi hukum dari khitbah; yaitu bahwa ketika bahwa seorang wanita telah dilamar (makhtubah) dia tidak boleh dilamar oleh orang lain. Dan dia menyadari bahwa khitbah tak lebih dari pengikat yang, karena ia bukan pernikahan, tidak memiliki konsekuensi lain daripada itu.

Disamping itu dia juga menganggap penting pertunangan ini, katanya, untuk menjaga dirinya dari kha’inatil a’yun (ungkapan yang dia gunakan); mata yang jelalatan . Dia menyatakan pertunangan dalam beberapa kasus-seperti pernikahan dalam arti yang lain-dapat menjaga seseorang dari gangguan yang mungkin terjadi apabila hal itu belum terjadi, dan sejauh pengamatan saya, dalam kasusnya, pernyataan itu benar, sekalipun tidak sepenuhnya.

And life goes on, mereka berdua menjalani hari-hari mereka seperti yang dibayangkan. Meskipun, saya yakin, terkadang tidak mungkin bagi mereka untuk menghindari, misalnya saling berpandangan tanpa keperluan atau sms-an yang kadang gak perlu (yang menurut standar ideal mereka berdua seharusnya tidak terjadi), tapi bagaimanapun, yang saya lihat, keseharian mereka sedikit banyak mencerminkan apa yang menjadi komitmen mereka.

Tapi kemudian kisahnya tidak sesederhana yang mereka inginkan. Hal ini salah satunya, atau mungkin satu-satunya, karena teman saya itu adalah pemuda yang terlahir dalam -untuk menggunakan istilah Barton-dunia keagamaan. Dan, meskipun saya lihat dia sebenarnya bukan orang yang spesial, sama sekali bukan, nyaris secara harfiah, tapi dia, sejauh ini, cukup berhasil dalam menjalani pendidikan akademis; nilainya cukup baik. Hal inilah-dan mungkin lainnya-yang menimbulkan konsekuensi dalam pembentukan persepsi sebagian orang bahwa ia adalah pemuda yang “cemerlang” (tanda petik yang harus ditekankan), diluar kenyataan bahwa dia adalah seorang ‘pemalas’ (satu hal yang mungkin terjadi dalam lingkungan pendidikan yang tidak terlalu kompetitif).

Persoalan berikutnya adalah meresmikan ikatan mereka secara tradisi, setelah sebelumnya mereka telah saling mengikat secara hukum agama. Di sinilah ungkapan Barton, yang dikutip pada awal tulisan, menemukan relevansinya. Sebagai seorang dari ‘dunia keagamaan’ dan keluarga yang ‘bertradisi’ (untuk tulisan tentang keluarga bertradisi klik disini), tidak mudah baginya, sama sekali, untuk berterus terang pada keluarganya tentang hal ini; bahkan untuk sekedar mendiskusikannya. Hal ini tidak hanya karena ‘tradisi itu’, tapi juga karena, dan dipersulit oleh, kepribadian teman saya yang cenderung introvert. Dia, setahu saya, tidak akan bercerita banyak kecuali kepada orang-orang yang terhadap mereka dia merasa aman untuk bercerita, disamping juga, tentunya, dibutuhkan kedekatan tertentu.

Hal lain yang juga berpengaruh terhadap sikap teman saya itu adalah konsepsinya tentang hubungan antara orang tua dan anak. Menurutnya taat pada orang tua merupakan kewajiban. Hal ini menempatkannya di posisi yang agak rumit. Disatu sisi, dia benar-benar sangat (seperti penekanan yang dia berikan) ingin menghindari durhaka pada orang tua, namun pada sisi lain, dia, setahu saya, benar-benar mencintai wanitanya. Satu posisi yang bisa membuat anda gila, secara literal, kapan saja .

Terkait dengan kutipan kedua, sebagai orang muda, yang dicirikan dengan semangat tinggi (meskipun ini tidak terlalu terlihat dalam diri teman saya itu), saya khawatir dia akan melakukan ‘sesuatu’, entah apa itu. Saya sempat bilang padanya untuk tidak menikah dengan selain wanita pilihannya itu apapun yang terjadi. Hal ini dia respon dengan antusias dan serius sekalipun saya tidak bermaksud serius dengan perkataan saya itu.

Dia mengatakan pada saya bahwa dia hanya berharap orang tuanya dapat memahaminya, karena, seperti yang dia katakan, wanita yang saat ini dia pilih secara agama, sesuai standar yang dia gunakan, adalah wanita yang baik dan layak (dua makna untuk kata shalihah). Sebagai seorang karib saya hanya mendorongnya untuk secara terbuka membicarakan hal itu dengan orang tuanya. Karena, saya pikir, apabila memang orang tuanya berasal dari dunia keagamaan, tentunya beliau tidak akan keberatan terhadap wanita yang, menurut standar keagamaan, shalihah.

Yah, kadang memang menarik mengamati sesuatu yang, tampak sebagai, paradoks.

  1. makasih Ra amak aq udah baca

  2. de, saya tidak hendak mengkomentari Gus dan Cintanya… saya hanya tanya punya arsip artikel tentang Thusi tentunya yang berbahsa indo. kalo ada sent ke e-mail ya!

  3. boleh juga tuh kapan-kapan boleh dong diterbitin.
    awalnya….. aku bingung membacanya,,, maksud e opo….
    setelah kuulang membaca aku semakin bingung iki maksud e opo…
    setelah kuulang sekali lagi,ternyata mataku makin panas dan tulisannya makin kabur, akhirnya akupun ikutan kabu..ur. hehehe….

  4. Yg melegakan adlh bhwa “teman”(?) smpean itu senantiasa pd komitmen luhurnya.Dan itu cukup mnrt sy. Yg kmudian mnimbulkan polemik -dlm kcmta sy- adlh ktka qta sdh mulai menthentheng nronjol2 ke ruang masa dpan -yg bhkan blm tntu dpt trlewati. Mgkn dia ckp jalani komitmen luhurnya hari demi hari. Jk si wanita memang “jatah”nya,psti ada aja jalannya. Kullun muyassarun limaa khuliqo lah. Af1.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: