Robbani

Korupsi di Sekitar Kita

In Indonesia, Korupsi, Opini on Oktober 1, 2008 at 3:52 am

Apakah korupsi itu? Secara sederhana korupsi adalah manipulasi dan penyimpangan yang dilakukan untuk kepentingan sepihak dengan mengorbankan kepentingan umum atau kepentingan orang yang berhak.
Bahwa korupsi merugikan negara sudah banyak disadari orang, tapi bahwa ia bahkan dapat merendahkan martabat manusia dan kemanusiaan merupakan suatu hal yang seringkali tidak terlalu diperhatikan, terutama di lingkungan di mana korupsi sudah menjadi begitu umum.

Korupsi tidak hanya terjadi dengan melanggar peraturan, ia juga dapat menjadi ‘sah’. Marilah kita lihat mekanisme yang banyak terjadi pada tahun 60 dan 70-an dan masih menjadi akar dari banyak persoalan yang dihadapi mantan negara jajahan saat ini:

Sebuah perusahaan mendapat semua lisensi pemerintah yang dibutuhkan untuk membangun pabrik semen. Dengan itu, ia meminjam dana 100 miliar ditambah dana 100 miliar yang berasal dari pemilik modal dengan perkiraan proyek ini akan bernilai 200 miliar. Pada kenyataannya, si penguasaha hanya menggunakan dana pinjaman 100 miliar untuk membangan pabriknya, tentu dengan kondisi yang jauh dibawah pabrik yang dianggarkan bernilai 200 miliar. Tentu saja hal ini berakibat pada kerugian yang tak terhindarkan. Namun karena industri semen adalah sektor yang penting, pemerintah memutuskan untuk menyelamatkannya dan membeli 50 persen perusahaan itu seharga 100 miliar dan menetapkan kenaikan harga hingga pabrik semen itu dapat menghasilkan keuntungan. Si pengusaha tidak mengeluarkan uang sepeser pun namun tetap dapat memiliki 50 persen saham perusahaan, sementara pemerintah merugi 100 miliar untuk membiayai semen yang harganya melambung sehingga merugikan pelanggan. Dalam contoh ini semuanya terjadi secara ‘legal’. Dan jika hal ini berulang-ulang, terutama pada industri yang penting, dapat dilihat betapa tidak efisiennya sistem ekonomi yang disokong pemerintah yang korup. Dan di Indonesia saat ini model korupsi yang ‘canggih’ dan ‘legal’ seperti ini banyak terjadi, terutama di kalangan atas negeri ini.

Contoh lain yang lebih mudah ditemui dan lebih ‘teri’. Seorang pejabat berwenang memperoleh ‘bayaran’ karena telah memberikan hak pengurusan bisnis tertentu kepada seorang pengusaha. Hal ini terlihat tidak berbahaya dan tidak ‘terlalu’ berefek buruk. Tapi sebenarnya lebih dari itu. ‘Pelicin’ ini berakibat pada hilangnya mekanisme alamiah dalam menentukan yang terbaik dan harga terbaik yang bisa didapat pemerintah. Dan pada umumnya, pengusaha yang rela menyogok adalah mereka yang menginginkan keuntungan besar dan instan yang menghasilkan produk yang buruk namun berbiaya mahal. Banyak aspal di negara kita ini adalah saksi bisu untuk praktik-praktik semacam ini. Akhirnya yang paling dirugikan adalah konsumen yang harus menikmati produk yang apa-adanya dengan biaya mahal.

Ketika hal ini sudah membudaya, birokrasi yang selalu meminta upah untuk pengurusan surat-surat yang dibutuhkan masyarakat pastilah menjadi hal yang biasa. Dan hal ini pada gilirannya akan membuat perusahaan dan orang yang benar-benar kompetitif memilih ‘hidup’ di tempat yang lebih nyaman iklim usahanya dan negeri yang penuh dengan sogokan akhirnya hanya diisi oleh ahli sogok yang tidak kompetitif. Singapura dan Malaysia adalah contoh baik untuk hal ini. Negara pertama yang hanya berpenduduk 4 juta orang mampun membeli perusahaan-perusahaan asing dengan pelanggan lebih dari 10 juta orang. Sementara Malaysia mempu mendatangkan 18 juta wisatawan berbanding 1 juta orang yang berhasil didatangkan Myanmar padahal sumber daya keduanya tidak terlalu berbeda.

>bersambung
diadaptasi dari tulisan Alistair G. Speirs, Why Corruption is Harmful, Garuda Magazine edisi September 2008

  1. Jelek…
    Gak guna…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: