Robbani

Archive for November, 2008|Monthly archive page

Mempersoalkan definisi: Review Buku The Problem of Definition in Islamic Logic

In 1 on November 17, 2008 at 7:25 am

Zainal Abidin Baqir. The Problem of Definition in Islamic Logic: A Study of Abu al-Naja al-Farid’s Kasr al-Mantiq in comparison with Ibn Taimiyyah’s kitab al-Radd ala al-Mantiqiyyin. ISTAC Master’s Theses Series volume I. Kuala Lumpur: ISTAC 1998. pp. ix + 89. General Editor: Sharifah Shifa al-Attas. ISBN: 983-9379-04-6

LATAR BELAKANG
Sebagai sebuah disiplin ilmu, logika, khususnya dan filsafat secara umum, pada mulanya tidak diterima secara bulat oleh para ulama Islam. Karenanya, dalam beberapa penelitian, termasuk karya ini, penamaan logika Islam, terutama dalam kaitannya dengan perkembangan awal, hanya merujuk pada periode dimana pengembangan logika dilakukan oleh orang Islam atau dalam lingkungan intelektual yang didukung oleh pemerintahan Muslim.
Dalam perkembangannya, logika, dan filsafat pada umumnya, mendapat kritik-kritik dari para ulama. Sifat kritik yang dilancarkan itu sendiri beragam. Ada diantara para pengritik yang menggunakan alasan keagamaan sebagai alasan penolakan terhadap logika, disamping pula terdapat kritik yang dilakukan dengan objektif yang dilakukan justru untuk perkembangan logika itu sendiri.
Kajian tentang kritik terhadap logika jarang ditulis oleh para peneliti dan jikapun ada, penulisannya, pada umumnya lebih menekankan pada aspek sosiologis kritik itu, dalam kaitannya dengan kemunduran kajian saintifik dan filosofis di dunia Islam pada. Seperti yang bisa ditemukan pada karya Ignaz Goldziher The Attitude of Orthodox Islam ‘Ancient Sciences’ yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1915. dka
Karena itu, dalam buku ini, yang pada mulanya merupakan tesis S-2 di ISTAC Malaysia, penulis memilih untuk menganalisis kritik-kritik terhadap logika dengan penekanan pada kandungan kritik itu sendiri.
Baca entri selengkapnya »

Iklan

The Problem of Definition in Islamic Logic (Review Buku)

In 1 on November 17, 2008 at 6:48 am

Zainal Abidin Baqir. The Problem of Definition in Islamic Logic. ISTAC Master’s Theses Series volume I. Kuala Lumpur: ISTAC 1998. pp. ix + 89.

Hubungan antara filsafat dan Islam seolah tak pernah usai diperbincangkan, utamanya tentang masa permulaan disaat filsafat Yunani mulai diperkenalkan kepada kaum muslimin. Hal ini erat kaitannya dengan posisi filsafat dalam Islam. Hal demikian berlaku pula bagi logika; salah satu cabang filsafat, yang oleh sementara ulama Islam kemudian ‘dibersihkan’ dari unsur-unsur filsafat yang dianggap membahayakan akidah Islam. Sebenarnya, perdebatan seputar kebolehan mengkaji logika seusia dengan masuknya ilmu tersebut kedalam peradaban Islam.

Dalam pengantarnya, penulis mendiskusikan motif-motif yang mendasari, dan poin-poin, kritik. Setidaknya ada dua motif yang mendorong ulama untuk mengritik logika. Pertama, kritik yang berusaha meruntuhkan logika sebagai sebuah disiplin. Kritik ini didasari oleh alasan keagamaan; yakni kekhawatiran bahwa logika akan menggantikan kedudukan Al-Quran sebagai kitab petunjuk. Yang termasuk golongan pertama ini misalnya Abu al-Naja al-Farid dan Ibn Taymiyah, yang merupakan sentral kajian penulisan tesis ini. Kedua, kritik yang dilontarkan oleh ulama yang memiliki kecenderungan filosofis, namun sangat berbeda dengan para filosof aliran tradisional seperti Al-Farabi dan Ibn Sina. Dalam golongan ini termasuk Fakhr al-Din al-Razi dan Suhrawardi. Tentang sasaran kritik terhadap logika, penulis menjelaskan setidaknya ada tiga poin penting yang menjadi bahan kritik utama. Pertama, logika sebagai satu-satunya sarana untuk memeroleh pengetahuan. Kedua, konsistensi logika sebagaimana yang dijelaskan oleh ahli logika. Ketiga, kritik berkaitan dengan persoalan-persoalan epistemologis yang utamanya berhubungan dengan definisi.
Baca entri selengkapnya »

Tentang Sumber-Sumber Pengetahuan: Antara Barat dan Islam

In 1 on November 17, 2008 at 6:46 am

Perjumpaan antar peradaban merupakan sesuatu yang niscaya dalam era globalisasi. Setiap peradaban membawa cara pandangnya masing-masing. Cara pandang yang kemudian dipengaruhi—dan berpengaruh kepada—banyak hal, diantaranya sikap ilmiah. Peradaban Islam misalnya, yang cara pandang dan pola hidupnya dipengaruhi oleh wahyu.
Dalam konteks ilmiah, Islam yang disokong oleh wahyu tentu akan memiliki sikap yang berbeda dengan peradaban Barat yang memandang wahyu sebagai sesuatu yang tidak saintifik. Dalam tataran epistemologis, perbedaan cara pandang ini jelas terlihat ketika dihadapkan pada persoalan sumber-sumber pengetahuan. Makalah sederhana ini mencoba membandingkan pandangan Barat dan Islami menyangkut sumber-sumber pengetahuan manusia.

Baca entri selengkapnya »