Robbani

The Problem of Definition in Islamic Logic (Review Buku)

In 1 on November 17, 2008 at 6:48 am

Zainal Abidin Baqir. The Problem of Definition in Islamic Logic. ISTAC Master’s Theses Series volume I. Kuala Lumpur: ISTAC 1998. pp. ix + 89.

Hubungan antara filsafat dan Islam seolah tak pernah usai diperbincangkan, utamanya tentang masa permulaan disaat filsafat Yunani mulai diperkenalkan kepada kaum muslimin. Hal ini erat kaitannya dengan posisi filsafat dalam Islam. Hal demikian berlaku pula bagi logika; salah satu cabang filsafat, yang oleh sementara ulama Islam kemudian ‘dibersihkan’ dari unsur-unsur filsafat yang dianggap membahayakan akidah Islam. Sebenarnya, perdebatan seputar kebolehan mengkaji logika seusia dengan masuknya ilmu tersebut kedalam peradaban Islam.

Dalam pengantarnya, penulis mendiskusikan motif-motif yang mendasari, dan poin-poin, kritik. Setidaknya ada dua motif yang mendorong ulama untuk mengritik logika. Pertama, kritik yang berusaha meruntuhkan logika sebagai sebuah disiplin. Kritik ini didasari oleh alasan keagamaan; yakni kekhawatiran bahwa logika akan menggantikan kedudukan Al-Quran sebagai kitab petunjuk. Yang termasuk golongan pertama ini misalnya Abu al-Naja al-Farid dan Ibn Taymiyah, yang merupakan sentral kajian penulisan tesis ini. Kedua, kritik yang dilontarkan oleh ulama yang memiliki kecenderungan filosofis, namun sangat berbeda dengan para filosof aliran tradisional seperti Al-Farabi dan Ibn Sina. Dalam golongan ini termasuk Fakhr al-Din al-Razi dan Suhrawardi. Tentang sasaran kritik terhadap logika, penulis menjelaskan setidaknya ada tiga poin penting yang menjadi bahan kritik utama. Pertama, logika sebagai satu-satunya sarana untuk memeroleh pengetahuan. Kedua, konsistensi logika sebagaimana yang dijelaskan oleh ahli logika. Ketiga, kritik berkaitan dengan persoalan-persoalan epistemologis yang utamanya berhubungan dengan definisi.

Buku yang merupakan tesis penulis ketika menyelesaikan pasca sarjana di ISTAC Malaysia ini mengelaborasi kritisisme yang dilancarkan terhadap logika, khususnya yang terkait dengan persoalan definisi, yang dilancarkan oleh kelompok pertama, yakni mereka yang mengritik logika dengan tujuan merobohkannya sebagai disiplin ilmu. Pilihan terhadap tema ini didasari oleh fakta bahwa kajian sebelumnya tentang logika dalam tradisi Islam lebih menekankan pada aspek sosiologis.

Studi dalam buku ini bersifat tekstual dan komparatif. Yang dipilih sebagai representasi kritik terhadap logika dari kalangan tradisional adalah dua buku yang ditulis oleh dua ulama yang berbeda zaman. Yang pertama, Risalat al-Khamsin Mas’alah fi Kasr al-Mantiq yang ditulis oleh Abu al-Naja al-Farid dan Kitab al-Radd ‘ala al-Mantiqiyyin yang ditulis oleh Ibn Taymiyyah. Sayangnya yang dijadikan rujukan adalah versi ringkasan yang ditulis oleh al-Suyuti, ulama yang dikenal ‘memusuhi’ mantiq, dalam Jahd al-Qarihah.

Bagian pertama (h. 7-14) buku ini digunakan untuk menjelaskan perkembangan, dan kritik atas, logika dalam dunia Islam. Pembahasan pada bagian ini bersifat historis yang digolongkan menjadi tiga periode. Periode pertama adalah masa ketika buku-buku Yunani diterjemahkan secara ekstensif ke dalam bahasa Arab. Pada tahap ini yang menjadi perhatian pokok adalah penerjemahan itu sendiri. Pada periode kedua, tulisan-tulisan tentang logika yang independen telah mulai ditulis. Dua tokoh utama pada masa ini adalah al-Farabi dan Ibn Sina. Masa ini juga ditandai oleh pertentangan yang muncul antara ahli bahasa dan filosof. Proses transfer logika ke dalam peradaban Islam diselesaikan pada masa ini. Pada perkembangan selanjutnya, logika menjadi sasaran utama kritik yang disampaikan para ulama, karena posisinya yang strategis sebagai prasyarat ilmu-ilmu filosofis yang dikaji saat itu.

Bagian kedua (h. 15-31) ditujukan untuk memberi gambaran mengenai struktur logika menurut filosof muslim sejauh terkait dengan teori definisi. Penulis memilih dua filosof yang secara umum dianggap sebagai tokoh-tokoh yang berpengaruh pada masa kemudian. Bagian ini dibagi lagi menjadi dua, yang masing-masing menjelaskan sistem logika yang dimiliki oleh kedua filosof ini.

Bagian ketiga dan keempat (h. 33-66), yang merupakan inti pembahasan buku ini, memfokuskan pada persoalan-persoalan definisi dalam buku Kasr al-Mantiq dan menurut Ibn Taymiyyah. Pada bagian ketiga tentang karya Abu al-Naja al-Farid, penulis mengelaborasi struktur teks yang berisi tentang informasi tentang teks dan penulisnya. Selanjutnya, penulis menjelaskan persoalan-persoalan yang dibahas dalam buku tersebut yang berjumlah lima puluh pertanyaan yang terbagi dalam delapan bagian.

Kemudian penulis memfokuskan pada pembahasan tentang definisi dalam buku Kasr al-Mantiq yang terutama terdapat bab pertama yang terdiri dari tujuh pertanyaan. Ketujuh pertanyaan ini diklasifikan menjadi empat; prioritas antara definisi dan yang didefinisikan, pendefinisian dan penamaan, identitas definisi dan yang didefinisikan, dan pendefinisian sesuatu yang partikular.

Penulis menganalisis beberapa persoalan yang dibahas dalam Kasr al-Mantiq. Pertama, tentang persoalan pendefinisian dan penamaan yang dikritik oleh penulis. Kedua, tentang prioritas nama terhadap definisi yang juga dikritik. Ketiga, tentang perkataan (lafz) dan maksud (qasd). Keempat, tentang realitas eksternal, mental dan bahasa; dan persoalan identitas antara definisi dan yang didefinisikan.

Pada bagian keempat, penulis, pada bagian pendahuluan, menjelaskan secara singkat kehidupan Ibn Taymiyah sejauh terkait dengan logika. Bagian ini terdiri dari dua bagian. Pertama, kritik Ibn Taymiyah terhadap doktrin tentang definisi yang terdiri dari dua klaim; klaim negatif (yang dibuat oleh filosof seperti “Tidak ada konsep yang bisa diraih tanpa definisi”) dan klaim positif (seperti “Definisi membawa pada pengetahuan tentang konsep”). Dalam analisisnya, penulis menjelaskan bahwa kritik Ibn Taymiyah mempertanyakan dasar-dasar epistemologis dan metafisis dari tasawwur (konsep). Diantara yang didiskusikan Ibn Taymiyah adalah status logis dari klaim para filosof, persoalan tasawwur (konsep) persoalan epistemologis dan ontologis yang meliputi definisi.

Di bagian akhir, penulis menulis bahwa kritik yang diajukan al-Farid bersifat logiko-lingusitik, sementara kritik Ibn Taymiyah bersifat, terutama, epistemologis. Kritik al-Farid berada di wilayah perbatasan antara logika dan bahasa. Artinya mana diantara keduanya yang lebih superior terhadap yang lain. Sementara kritik Ibn Taymiyah berusaha membuktikan bahwa klaim para filosof tentang definisi adalah salah. Hal lain yang juga menjadi sasaran kritik Ibn Taymiyah adalah persoalan tasawwur, yakni bahwa kognisi mendahului definisi. Penulis menyimpulkan bahwa kritik Ibn Taymiyah lebih substansial daripada kritik al-Farid sekalipun motif yang mendorong keduanya sama. Kritik-kritik terhadap logika mengharuskan para filosof secara teori untuk lebih memperlunak klaim yang mereka sampaikan, juga setidaknya menghapuskan keabsolutan metafisika para filosof.

Buku ini penting sejauh membuktikan dinamika ‘filosofis’ peradaban Islam. Dialektika filsafat tidak hanya terjadi antara mereka yang ‘berprofesi’ sebagai filosof. Diantara hal-hal yang bisa dijadikan kritik terhadap karya ini adalah miskinnya sumber primer, terutama dalam pembahasan inti. Hal ini barangkali dapat dipahami dalam kasus al-Farid yang buku-bukunya banyak belum terlacak. Alih-alih menggunakan karya asli Ibn Taymiyah, pilihan penulis menggunakan versi ringkasan karya al-Suyuti adalah pilihan yang kurang tepat, mengingat ketersediaan kitab asli (Kitab al-Radd ‘ala al-Mantiqiyyin) disamping karya tulis Ibn Taymiyah yang lain terkait kritik terhadap logika. WaLlahu a’lam.

  1. Bila ada yang tertarik dengan buku ini, bisa mendapatkannya melalui Madani Online Bookstore (Fb) atau e-mail ke madaniaonline@rocketmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: