Robbani

S.M.N. Al-Attas

In Makalah, Muslim, Tokoh on Januari 26, 2009 at 10:58 am

Al-Attas adalah sedikit dari segelintir intelektual Muslim kontemporer yang intelektualitasnya berakar kuat pada tradisi Islam. Berbeda dengan kebanyakan pemikir kontemporer lainnya yang banyak menggunakan proposisi Barat dalam menjelaskan pemikirannya, al-Attas menggunakan istilah-istilah yang telah mapan dalam tradisi keilmuan Islam. Hal ini—selain menunjukkan penghormatan yang mendalam pada Tradisi Islam di satu sisi—juga merujuk pada kematangan intelektual di sisi lain, mengingat pendidikan yang dijalaninya tidak hanya di lembaga-lembaga milik umat Islam. Dalam tulisan pendek ini, akan coba dipaparkan secara singkat biografi al-Attas dan pandangan al-Attas tentang worldview Islam, pendidikan dan tasawuf.
Pemaparan sejarah hidup seorang tokoh, sekalipun dengan singkat, menjadi hal yang tidak bisa dihindari dalam penulisan pemikirannya, karena hal itu erat berkelindan dengan pemikiran yang dituangkan dan aktifitas yang dijalani tokoh itu kemudian. Pemilihan tiga aspek dari pemikiran al-Attas didasarkan pada pandangan bahwa tiga hal itu sebagai sesuatu yang berkait erat dengan pikiran besar al-Attas tentang islamisasi ilmu pengetahuan. Kontribusi konkrit al-Attas dalam bidang pendidikan juga perlu dipaparkan, mengingat hal ini akan membuktikan bahwa ide-ide yang dituangkan al-Attas dalam buku-bukunya bukanlah ide utopis yang tidak bisa dicapai dalam realitas.

BIOGRAFI
Dilahirkan pada 5 September 1931 di Bogor Jawa Barat, pria ini bernama lengkap Muhammad Naquib. Dan sesuai dengan tradisi, sebutan al-Attas ditambahkan untuk menunjukkan bahwa dia merupakan keturunan dari salah satu klan Ahl al-Bayt yang berasal dari Hadlramaut Yaman yang secara genealogis kembali pada Imam Husein bin Ali, cucu Nabi saw. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah bin Muhsin al-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raquan al-Aydarus.
Pendidikan formal al-Attas dimulai pada usia lima tahun ketika dikirim ke Sekolah Dasar Ngee Heng. Lima tahun kemudian al-Attas melanjutkan sekolahnya di Madrasah al-Urwatu al-Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat. Setelah itu, al-Attas menyelesaikan pendidikan lanjutannya di Bukit Zahrah School dan kemudian di English College. Bersama salah seorang pamannya yang memiliki perpustakaan manuskrip sastra dan sejarah Melayu yang bagus, al-Attas menghabiskan masa belajarnya disamping juga berkunjung ke perpustakaan lain yang dimiliki keluarganya yang lain yang memuat buku-buku klasik Barat dalam bahasa Inggris.
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat menengah, al-Attas mendaftarkan diri ke resimen militer Melayu yang kemudian terpilih untuk mengikuti pendidikan militer di Eton Hall, Wales dan kemudian pindah ke Royal Military Academy Sandhurst, Inggris selama tiga tahun. Selama berada di Sandhurst inilah, al-Attas mulai berkenalan dengan tulisan tentang metafisika tasawuf, khususnya karya-karya Abdurrahman Jami, disamping tentunya mengenal secara langsung karakteristik masyarakat Inggris. Setelah menyelesaikan pendidikan kemiliterannya, al-Attas bertugas di korps militer kerajaan Malaya. Pendidikan militer yang diikuti al-Attas pada gilirannya banyak membentuk kepribadiannya; seperti kedisiplinan, ketaatan, dan kesetiaan.
Semasa mengikuti pendidikan militer di Inggris, al-Attas juga melakukan serangkaian perjalanan ke Spanyol dan Afrika utara yang merupakan penyimpanan banyak khazanah keilmuan Islam klasik, dan hal ini kemudian memengaruhi karier intelektualnya. Mungkin faktor ini juga berperan terhadap keputusan al-Attas untuk mengundurkan diri dari angkatan militer kerajaan Malaya dan kemudian memilih untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Malaya yang ditempuh selama dua tahun antara tahun 1957 sampai 1959. Selama dua tahun masa pendidikan di Universitas Malaya, al-Attas telah menyelesaikan dua buku; Rangkaian Ruba’iyat dan Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays.
Karier pendidikan al-Attas berlanjut ketika datang tawaran beasiswa dari pemerintah Kanada melalui Canada Council Fellowship untuk masa belajar tiga tahun di Institut Studi Islam di Universitas McGill Montreal. Masa belajar di Kanada diselesaikan dengan penulisan tesis yang berjudul Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh dengan nilai sangat memuaskan dan setelah itu menerima gelar M.A. bidang filsafat Islam. Di perguruan tinggi ini pula al-Attas banyak berkenalan dengan ilmuwan kelas dunia seperti Toshihiko Izutsu—yang banyak berpengaruh pada analisis semantik al-Attas—Fazlur Rahman, dan Seyyed Hossein Nasr.
Jenjang doktoral ditempuh al-Attas di School of Oriental and African Studies di universitas London. Dia menulis disertasinya dibawah bimbingan Profesor A. J. Arberry dan Dr. Martin Lings yang berupa karya monumental dua jilid tentang Sufi Melayu kontroversial berjudul The Mysticism of Hamzah Fanshuri dan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Karir intelektual al-Attas, terutama di tingkat menengah dan tinggi, mengindikasikan kecenderungan yang kuat pada tasawuf. Hal ini kemudian berpengaruh pada intelektualitas al-Attas secara umum.
Setelah merampungkan pendidikan tingginya pada 1965, al-Attas kembali ke Malaysia dan diangkat menjadi Ketua Jurusan Sastra di Fakultas Kajian Melayu di Universitas Malaya. Dari tahun 1968 sampai 1970, al-Attas adalah dekan Fakultas Sastra di perguruan tinggi yang sama. Dan pada tahun-tahun berikutnya, al-Attas aktif melakukan aktifitas ilmiah dan menerima banyak penghargaan dari berbagai institusi pendidikan seluruh dunia. Aktivitas ilmiah al-Attas mencapai puncaknya saat dia berhasil mendirikan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang secara resmi dibuka pada 4 Oktober 1991. Institusi inilah yang kemudian menjadi wadah implementasi ide-ide al-Attas tentang pendidikan tinggi Islam.

AL-ATTAS DAN WORLDVIEW ISLAM
Bagi al-Attas, dalam Islam worldview (pandangan hidup) tidak hanya melibatkan sesuatu yang fisikal-manusiawi; dan tidak juga hanya didasarkan pada pandangan filosofis-saintifik—dalam pengertian Barat, hal mana yang dalam wacana Arab kontemporer diterjemahkan sebagai nazhrah al-islam li al-kawn. Berkebalikan dengan hal itu, al-Attas menawarkan konsep ru’yah al-islam li al-wujud yang menghilangkan konotasi yang semata-mata filosofis-saintifik Barat—yang dikandung dalam kata ru’yah, alih-alih nazhrah—dan meluaskan objeknya yang mencakup kosmos dan Tuhan sebagai pencipta—yang merupakan konotasi kata al-wujud, sebagai ganti al-kawn.
Dalam Islam tidak dikenal pemisahan sakral-profan, akhirat-dunia, dan Mutlak-relatif yang berakibat pada keterbelahan kebenaran, kepribadian, dan masyarakat—untuk menyebutnya demikian. Islam mencakup aspek kedua aspek itu dengan menjadikan salah satunya, yakni yang sakra
l, akhirat dan Yang Mutlak, sebagai tujuan akhir tanpa menegasikan pentingnya aspek yang lain. Tanpa pemisahan itu maka worldview Islam adalah ”pandangan tentang realitas dan kebenaran yang tampak di depan kita yang mengungkapkan tentang hakikat wujud, karena totalitas wujud lah yang diproyeksikan oleh Islam.”
Worldview Islam yang didasarkan atas landasan Wahyu yang diyakini berasal dari Tuhan adalah pandangan metafisika tentang yang terlihat maupun yang tidak terlihat yang juga mencakup pandangan tentang hidup secara keseluruhan. Para sarjana Muslim, dalam investigasi keilmuan, tidak mengenal dikotomi metode berpikir seperti yang dikenal dalam sejarah pemikiran Barat, yang oleh al-Attas disebut metode tauhid dalam berpengetahuan.
Islam adalah adalah din yang sejak semula telah lengkap. Hal-hal yang harus ada untuk sebuah din—nama, iman, amal, dan ritual—telah ada sejak Islam didakwahkan oleh Nabi saw. dan hal itu disadari dan diamalkan oleh Sahabat dan kemudian dilanjutkan oleh generasi penerus hingga kini. Islam, karenanya, tidak mengenal tahapan-tahapan ’perkembangan’ yang dapahami sebagai perubahan dari satu fase ke fase lainnya.

AL-ATTAS DAN PENDIDIKAN ISLAM
Menurut al-Attas istilah yang tepat untuk menunjuk pendidikan Islam bukanlah tarbiyah yang selama ini sering digunakan. Untuk membuktikan pernyataan ini, al-Attas memulainya dengan mula-mula mengartikan pendidikan secara umum sebagai ”proses penanaman sesuatu dalam diri manusia”. ”Proses” dalam definisi ini merujuk pada metode dan sistem yang dengannya pendidikan ditanamkan secara bertahap. ”Sesuatu” merujuk pada kandungan pendidikan yang ditanamkan. Sedangkan manusia adalah pihak yang menerima proses dan kandungan pendidikan.
Dalam konteks Islam al-Attas mendefinisikan pendidikan sebagai ”pengenalan dan pengakuan—yang secara bertingkat ditanamkan pada manusia—terhadap tempat yang sesuai bagi segala sesuatu dalam penciptaan, sehingga hal itu bisa menuntun pada pengenalan dan pengakuan terhadap posisi yang sesuai bagi Tuhan dalam hirarki wujud”. Pengenalan (recognition) dalam definisi ini berarti mengetahui tempat yang tepat terkait dengan apa yang dikenal, sedangkan pengakuan (acknowledgement) berarti tindakan yang terlahir dari pengetahuan itu. Pengenalan yang tidak dibarengi dengan perbuatan adalah kesombongan, sedangkan perbuatan yang tidak didasarkan atas pengenalan tentang yang seharusnya adalah kebodohan.
Disamping itu, ada konsep kunci lain dalam pendidikan Islam, yang tanpanya pendidikan Islam tidak dapat terwujud. Hal itu adalah pengetahuan tentang tujuan mencari ilmu yang oleh al-Attas dinamakan adab. Adab adalah disiplin tubuh, pikiran dan jiwa; sebuah disiplin yang memastikan pengenalan dan pengakuan terhadap posisi seorang terkait dengan kapasitas dan potensi fisik, intelektual, dan spiritual; pengenalan dan pengakuan terhadap kenyataan bahwa pengetahuan dan wujud diatur secara bertingkat sesuai dengan posisinya masing-masing.

AL-ATTAS DAN TASAWUF
Seperti yang bisa dilihat dari aktifitas intelektual al-Attas, tasawuf adalah sesuatu yang penting bagi al-Attas. Baginya, tasawuf adalah bagian integral dari Islam itu sendiri, lebih tepatnya dimensi batin dari Islam. Tasawuf adalah mengamalkan syariah dalam tingkatan ihsan, sebagaimana yang disebut dalam hadis Nabi saw. Ia adalah ibadah yang dikuatkan dengan pencerahan intelektual yang menuntun pada pemahaman spiritual tentang realitas. Lebih jauh, al-Attas menegaskan bahwa tasawuf disadarkan pada keyakinan, karena ia berlandaskan hikmah dan al-ilmu al-ladunniy—kebijaksanaan dan pengetahuan spiritual yang dianugerahkan Tuhan kepada siapapun yang Dia kehendaki.
Karena tasawuf adalah juga pengetahuan yang menjadikan pemiliknya mengenal dan mengakui tingkatan realitas dan kebenaran, dengan demikian tasawuf adalah sumber dari adab seperti yang dipahami dalam konteks pendidikan Islam. Untuk mengaitkan tasawuf dengan Islam, al-Attas menyebut bahwa istilah-istilah tasawuf diambil dari al-Quran, sementara penafsiran dan praktiknya berlandaskan al-Sunnah.
Al-Attas tidak setuju terhadap kelompok liberal dan modernis yang secara keliru menyalahkan tasawuf sebagai penyebab kemunduran umat Islam. Hal ini, menurut al-Attas, disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka kekurangan visi spiritual dan kapasitas intelektual untuk memahami tasawuf, dan mereka kemudian menyalahkan sesuatu yang tidak mereka pahami. Mengatakan bahwa tasawuf mengandung benih-benih kemunduran dan degradasi adalah sama dengan mengatakan bahwa Sumber tasawuf mengandung benih-benih itu.
Kemunduran yang dialami umat Islam tidak berasal dari tasawuf dan Sumbernya, tapi disebabkan oleh orang-orang bodoh yang salah memahami, salah menerapkan, dan salah memraktikkan. Alih-alih sebagai penyebab kemunduran, tasawuf menguatkan iman umat Islam dimasa pemerintahan tiran; menanamkan adab; meninggalkan warisan literatur yang bernilai. Tentang hal ini, al-Attas, secara pribadi telah membuktikan hal ini. Dalam berbagai tulisannya, al-Attas menggunakan kitab-kitab yang ditinggalkan sarjana-sarjana Muslim, khususnya para Sufi, untuk mengelaborasi ajaran Islam dan ilmu keislaman. Kecenderungan sufistik al-Attas ini terlihat ketika dia menjelaskan konsep metafisika dalam Islam.

PENUTUP

REFERENSI

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam and Secularism. 1993. Kuala Lumpur: ISTAC.
—-. Prolegomena to the Metaphysics of Islam. 2001. Kuala Lumpur: ISTAC.
—-. The Concept of Education in Islam. 1999. Kuala Lumpur: ISTAC.
—-. The Worldview of Islam: An Outline. dalam Islam and The Challenge of Modernity: Historical and Contemporary Contexts. ed. Sharifah Shifa al-Attas. 1996. Kuala Lumpur: ISTAC.
Badaruddin, Kemas. Filsafat Pendidikan Islam, Analisis Pemikiran Prof. Dr. Syed Muhammad al- Naquib al-Attas. 2007. Jogjakarta: Pustaka Pelajar dan Bengkulu: STAIN Bengkulu. Cet. I.
Wan Daud, Wan Mohd Nor. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas. Terj. Hamid Fahmy et. al. 2003. Bandung: Mizan. Cet. I.

http://en.wikipedia.org/wiki/Royal_Military_Academy_Sandhurst. Diakses pada 13 Desember 2008.
http://www.scribd.com/doc/6401690/Biografi-Dan-Arti-Gelar-Leluhur-Alawiyyin. Diakses pada 13 Desember 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: