Robbani

utawi Hegel iku Idealisme Absolut

In 1 on Januari 5, 2010 at 7:42 am

Dalam kajian filsafat, seorang pengkaji akan mendapati narasi-narasi besar yang berpengaruh pada masa sesudahnya. Periode modern yang dimulai dengan rasionalisme Descartes, dilanjutkan dengan empirisime Hume dan kritisisme Kant, diakhiri masa dengan idealisme Jerman, yang memunculkan Nietzsche dan  menandai berakhirnya masa filsafat modern.
Tokoh idealisme Jerman terbesar pasca Kant adalah Hegel dengan idealisme absolutnya, satu generasi lebih muda dari Kant. Hegel dikenal dengan idealisme absolut yang dengannya dia mencoba merehabilitasi metafisika. Tulisan ini akan secara singkat memaparkan idealisme absolut menurut Hegel disertai beberapa penjelasan konsep kunci yang terkait dengannya.

2. Penjelasan Istilah
Menurut sebuah kamus filsafat, idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa objek pengetahuan yang sebenarnya adalah ide (idea); bahwa ide-ide ada sebelum keberadaan sesuatu yang lain; bahwa ide-ide merupakan dasar dari ke-ada-an sesuatu.[1] Dalam kamus lain dijelaskan bahwa idealisme adalah sistem atau doktrin yang dasar penafsirannya yang fundamental adalah ideal. Berlawanan dengan materialisme yang menekankan ruang, sensibilitas, fakta, dan hal yang bersifat mekanistik, idealisme menekankan supra-ruang, non-sensibilitas, penilaian, dan ideologis.[2] Dalam tataran epistemologis, idealisme berpendapat bahwa dunia eksternal hanya dapat dipahami hanya dengan merujuk pada ide-ide dan bahwa pandangan kita tentang alam eksternal selalu dimediasi oleh tindakan pikiran.[3]
 
3. Sejarah Idealisme dan Hegel
Terma idealisme berasal dari akar kata Yunani idea yang berarti pandangan (vision) atau kontemplasi. Istilah ini pertama kali digunakan secara filosofis oleh filosof dan matematikawan Jerman G. W. Leibniz yang merujuk pada pemikiran Plato dan memperlawankannya dengan empirisisme.[4] Istilah ini digunakan sebagai nama untuk teori tentang ide-ide arketip (archetypal ideas) dan untuk doktrin epistemologis Rene Descartes dan John Locke yang menyatakan bahwa ide—yang dalam doktrin ini berarti objek pemahaman manusia—bersifat subyektif dan dipunyai secara pribadi. Pengertian kedua dari idealisme diatas, yang meragukan eksistensi dunia materi, membuat istilah ini juga digunakan untuk akosmisme—yang menganggap alam materi hanya sekedar proyeksi dari pikiran manusia—dan immaterialisme—yang menyatakan bahwa dunia materi tidak ada. Kata idealisme semakin populer setelah digunakan oleh Immanuel Kant yang menyebut teori pengetahuannya sebagai idealisme kritis atau idealisme transendental.[5] Ada beberapa aliran idealisme filosofis. Yang paling terkenal adalah idealisme Jerman yang ditandai oleh tiga tahap perkembangan dalam sosok tiga filosof. Tahapan pertama adalah J. G. Fichte yang berpandangan idealisme subjektif. Tahap selanjutnya adalah F. W. J. Schelling pada tahap menengah perkembangan filosofisnya yang berpendirian idealisme objektif. Puncak idealisme Jerman tercapai di tangan G. W. F. Hegel yang pemikirannya disebut idealisme absolut sebagai hasil sintesis dari idealisme subjektif dan objektif.[6]
Pria bernama lengkap Georg Wilhelm Friedrich Hegel ini dilahirkan di di Stuttgart pada 27 Agustus 1770. Pada usia delapan belas tahun, dia memasuki Tübingen Stift, sebuah seminari Protestan di universitas Tübingen, dimana dia bertemu dengan dua temannya yang kemudian berpengaruh pada perkembangan pemikirannya; Friedrich Hölderlin dan Friedrich Wilhelm Joseph Schelling. Merasa senasib dalam ketatnya peraturan seminari itu, ketiganya menjadi teman akrab dan sering bertukar pikiran. Ketiganya memerhatikan peristiwa Revolusi Prancis dengan antusias. Schelling dan Hölderlin memelajari filsafat Kant dengan serius, sementara Hegel bercita-cita menjadi filosof popular, yaitu menyederhanakan ide-ide sulit para filosof. Setelah menerima gelar teologi dari Tübingen Seminary, dia menjadi guru privat yang mengajar di sebuah keluarga aristokrat di Berne selama tiga tahun dari 1793 sampai 1796. Pada masa ini, dia menyelesaikan karyanya yang berjudul ”Life of Jesus” dan sebuah manuskrip berjudul ”The Positivity of the Christian Religion”. Atas ajakan Hölderlin, Hegel berpindah ke Frankfurt pada 1797, dimana dia menyusun esai berjudul ”Fragments on Religion and Love”. Dua tahun kemudian dia menyelesaikan sebuah esai lagi berjudul ”The Spirit of Christianity and Its Fate”.[7]
Pada tahun 1801 Hegel mengunjungi temannya, Schelling, di kota Jena dimana dia menjadi profesor luar biasa di universitas setempat. Di universitas yang sama, Hegel kemudian bekerja sebagai Privatdozent (pengajar tak berbayar) setelah menyerahkan disertasi tentang orbit planet. Empat tahun kemudian, pada 1805, Hegel diangkat menjadi profesor luar biasa setelah dia mengirim surat protes kepada penyair dan menteri kebudayaan saat itu Johann Wolfgang von Goethe. Karena tuntutan ekonomi Hegel memublikasikan karyanya yang dikenal dengan Phenomenology of Spirit, ketika Napoleon berperang dengan tentara Prussia pada 14 Oktober 1806. Beberapa bulan kemudian, ketika berusia tiga puluh tujuh tahun, Hegel berpindah ke kota Bamberg untuk menerima tawaran menjadi editor surat kabar yang diterimanya dengan rasa enggan. Setahun kemudian, pada bulan November 1808, dia berpindah lagi ke kota Nuremberg. Di kota ini, Hegel mengadaptasi karyanya yang baru dipublikasikan untuk pengajaran di kelas, yang kemudian dikembangkan menjadi ensiklopedia ilmu-ilmu filosofis. Usai perkawinannya pada tahun 1811, dia memublikasikan karya besarnya yang kedua “the Science of Logic”, berturut-turut volume pertama pada 1812, volume kedua pada 1813, dan volume ketiga pada 1816. Pada bulan Oktober 1816, Hegel menjadi profesor filsafat di universitas Heidelberg. Kuliah-kuliah politiknya selama di Heidelberg menjadi dasar penulisan bukunya yang berjudul Philosophy of Right. Pada masa ini juga, Hegel menulis karya besarnya Encyclopedia of the Philosophical Sciences, karya tiga jilid yang mengeksposisi keseluruhan sistem yang dibangunnya.[8]
Pada bulan Desember 1817 menteri pendidikan Prussia menawarinya jabatan kursi kehormatan dalam bidang filsafat di universitas Berlin yang membuatnya tinggal di kota itu. Di Berlin, Hegel meraih popularitas dan pengaruh dan mengadakan kuliah di bidang estetika, sejarah filsafat, filsafat agama, dan filsafat sejarah. Kuliah-kuliahnya yang tidak dipublikasikan semasa hidupnya kemudian dipublikasikan dalam bentuk kumpulan karya oleh para mahasiswanya. Hegel meninggal tiba-tiba di Berlin pada tanggal 14 November 1831. Pemakamannya dipenuhi oleh para mahasiswa dan koleganya dan sesuai keinginannya dia dikuburkan disebelah temannya Fichte.[9]
4. Idealisme Absolut Hegel
Dari perspektif umum sejarah filsafat, filsafat Hegel adalah usaha untuk merehabilitasi metafisika usai dikotomi Kantian yang memisahkan antara noumena dan fenomena. Ia berusaha untuk mengetahui yang absolut dan tak terbatas melalui nalar murni. Hegel, dalam bukunya Encyclopedia of Philosophical Science, memosisikan filsafatnya sebagai respon terhadap tiga tren filosofis: rasionalisme metafisika kuno, filsafat kritis Kant, dan filsafat emosi Jacobi. Dia menyatakan bahwa sementara rasionalisme kuno tepat dalam mempostulasikan pengetahuan rasional tentang yang mutlak, ia tidak memiliki metodologi dialektika yang tepat untuk mencapai pengetahuan itu dan terjebak model pembuktian deduktif kuno. Sedangkan Kant, sekalipun tepat dalam kritiknya terhadap model pembuktian ini, mengambil kesimpulan terlalu jauh sehingga dia menyimpulkan ketidakmungkinan pengetahuan rasional apapun tentang yang mutlak. Di sisi lain, penentangan Jacobi dan para filosof Romantik terhadap pembatasan Kantian terhadap pengetahuan adalah tepat, akan tetapi solusi mereka—dengan semata-mata bergantung kepada intuisi dan perasaan estetika atau relijius—tidak dapat diterima.[10] Dengan mengafirmasi pengetahuan rasional tentang yang absolut, mengeyampingkan model pembuktian kuno, dan tidak menjadikan intuisi sebagai sarana mencapai pengetahuan absolut, Hegel menawarkan solusinya sendiri yang disebut dialektika.
Dalam salah satu karyanya, Hegel menyebut filsafatnya sebagai idealisme absolut. Dia menulis: ”Posisi yang diadopsi oleh konsep diatas adalah idealisme absolut”[11]. Menurut Hegel, berkebalikan dari kaum empiris, konsep lebih penting daripada objek dan ide-ide mental.[12] Idealisme Hegel bersifat metafisik, hal ini terlihat dari tesis dasarnya yang menyatakan bahwa segala sesuatu dalam alam dan sejarah adalah manifestasi dari ide absolut.[13] Ide di sini tidak dipahami sebagai sesuatu yang berada dalam pikiran manusia. Tentang idealisme dalam filsafat, Hegel menulis ”Idealisme dalam filsafat tidak lain adalah pengakuan bahwa yang terbatas tidaklah memiliki eksistensi yang sebenarnya.”[14]
Bagi Hegel yang terbatas adalah sesuatu yang berhenti meng-ada (ceases to be). Dengan demikian, idealisme bagi Hegel tidak hanya terbatas pada objek persepsi saja, sebagai dipahami pendahulunya, tapi mencakup semua yang terbatas. Dia menyimpulkan bahwa wujud yang terbatas adalah wujud yang tergantung dan, karenanya, tidak sepenuhnya nyata. Wujud yang terbatas bergantung kepada yang tak terbatas yang oleh Hegel disebut idea.[15] Dia menulis ”Setiap wujud individual merupakan satu aspek dari idea….Wujud individu dalam dirinya sendiri tidaklah bersesuaian dengan konsep. Limitasi itulah yang kemudian mewujud dalam keterbatasan dan kehancuran individu tersebut”[16]. Yang terbatas, menurut idealisme Hegel, bergantung secara eksistensial ontologis kepada idea. Konsepsi idea sebagai gantungan ontologis segala yang terbatas mengasumsikan bahwa realitas pada dasarnya bersifat konseptual, yakni diatur atas konsep tertentu. Yang sebenarnya eksis, menurut Hegel, adalah keseluruhan (the whole), yang dia sebut idea. Dia menyatakan bahwa ”Yang Sejati adalah keseluruhan. Tapi keseluruhan tidak lain merupakan esensi yang mewujud-sempurnakan dirinya melalui perkembangan”[17].
Ide absolut yang menjadi gantungan segala sesuatu dipahami oleh Hegel secara teleologis, yakni bahwa ia adalah tujuan tunggal—yang mewujudkan dan mengatur dirinya sendiri—dari segala sesuatu. Bahwa segala sesuat hanya merupakan manifestasi dari ide absolut ini berarti bahwa segala sesuatu bergerak dan meng-ada untuk tujuan tunggal tersebut. Ada tiga hal yang mendasari tesis Hegel ini. Yang pertama adalah monisme yang menyatakan bahwa semesta tidak terdiri dari substansi yang beragam dan jamak, alih-alih, ia menyatakan bahwa semesta hanya terdiri dari substansi tunggal. Bagi Hegel, hal-hal yang bersifat fisik dan mental hanyalah penampakan dari substansi universal yang tunggal. Monisme Hegel tidak berarti bahwa realitas adalah ke-satu-an yang murni; ketunggalan yang tidak terbedakan tanpa perbedaan dalam dirinya sendiri. Idealisme absolute, bagi Hegel, haruslah mampu menjelaskan kenyataan keragaman benda-benda.[18]
Hal kedua yang mendasari tesis Hegel adalah organisisme yang menyatakan bahwa realitas adalah keseluruhan yang hidup (living whole) or terbentuk dalam satu proses hidup tunggal. Menurutnya, proses ini mengalami tiga tahap: kesatuan yang belum sempurna (yang melahirkan identitas), diferensiasi (yang menimbulkan perbedaan), dan kesatuan dari kedua tahapan (yang mewujud dalam identitas dalam perbedaan).[19] Ide tentang organisime ini menyiratkan perkembangan dalam idealisme absolut Hegel berarti yang idea mengaktualisasi diri. Konsep perkembangan yang secara umum dipahami dalam konteks ruang dan waktu, direkonseptualisasi oleh Hegel dengan terma logika yang didasarkan pada konsep negasi. Negasi digunakan untuk mengkonseptualisasi mekanisme perkembangan. Kerangka negasi ini yang kemudian menjadi konsep kunci yang digunakan Hegel untuk menjelaskan realitas sebagai keseluruhan yang berkembang (developing whole).[20]
Hal ketiga adalah rasionalisme yang menyatakan bahwa proses hidup ini memiliki tujuan atau sesuai dengan idea yang dipahami bukan sebagai sesuatu yang bersifat mental atau subjektif manusiawi. Hegel memahami idea sebagai arketip yang memanifestasikan dirinya dalam yang subjektif dan objektif; mental dan material.[21]
Dalam karya besarnya, The Encyclopedia of the Philosophical Sciences, Hegel membagi sistem filosofisnya ke dalam tiga bagian: logika, filsafat alam, dan filsafat roh. Dalam logika—bukan dalam pengertian tradisional—dia menjelaskan struktur kategorial idea yang mendasari segala yang ada. Dua bagian yang lain merupakan penjelasan dari struktur konseptual yang lebih spesifik yang mewujud dalam alam dan roh; dimana keduanya adalah area manifestasi idea.[22]
Metode yang digunakan Hegel untuk membuktikan tesisnya tentang pengetahuan rasional tentang yang absolut adalah metode dialektika. Metode ini muncul sebagai reaksi atas pembatasan Kant atas pengetahuan hanya pada yang sensible dan pendapat Kant yang memustahilkan pengetahuan rasional murni atas yang absolut. Tidak seperti Kant yang membatasi pengetahuan pada pengalaman (phenomena), Hegel memilih untuk memahami keseluruhan yang menjadi dasar semua pengalaman.[23] Metode dialektik yang diadopsi Hegel berbeda dengan dialektika yang dikenal sebelumnya. Karena, bagi Hegel, dialektika Plato, misalnya, tidaklah murni dialektik karena ia bermula dari proposisi yang telah diasumsikan, yang karenanya tidak bersumber dari masing-masing elemen dialektik.[24]
Menurut Hegel, dialektik terdiri dari tiga aspek secara berurutan. Yang pertama adalah aspek abstraksi, dimana pemahaman mengasumsikan bahwa sebuah konsep adalah tidak terikat dan sepenuhnya terlepas dari hal lain. Aspek kedua adalah aspek negasi ketika pemahaman menemukan bahwa ternyata konsepnya tidaklah sepenuhnya terlepas dari yang lain, ia harus dipahami dalam kaitannya dengan hal lain. Pada titik ini, pemahaman terperangkap dalam kontradiksi; disatu sisi ia harus mengasumsikan ada yang tak terikat untuk mengakhiri rangkaian ikatan-ikatan, tapi disisi lain ia tidak bisa mengasumsikan yang tak terikat karena ia selalu menemukan batasan yang mengikatnya. Tahap ketiga adalah tahap spekulatif atau rasional yang mengakhiri kontradiksi antar dua tahapan sebelumnya dengan memandang bahwa yang tak terikat bukanlah sesuatu yang tersendiri melainkan keseluruhan dimana segala yang terbatas hanyalah bagian darinya. Dengan demikian bagi Hegel, keseluruhan mendahului bagian-bagiannya.[25]
Dalam kaitannya dengan agama, Hegel meyakini bahwa filsafat adalah pemahaman rasional terhadap keimanan keagamaan. Sesuatu yang oleh seni dan agama dipahami pada tingkat intuisi, oleh filsafat dipahami pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu level konsep atau pemikiran sistematis. Konsep Hegel tentang yang absolut dalam batas tertentu setara dengan konsep Tuhan dalam konsep agama tradisional. Bahkan Hegel sering merujuk pada yang absolut dengan kata Tuhan.[26] Beberapa segi konsep Hegel juga mendukung konsep yang dikenal dalam agama tradisional, seperti konsep teleologinya yang merestorasi konsep perhatian ilahiah (providence) dalam agama Kristen. Konsep perkembangan yang dijabarkan Hegel mendukung doktrin trinitas, yang baginya sang bapa merepresentasikan momen kesatuan, sang anak momen perbedaan, dan roh kudus momen kesatuan dalam perbedaan. Tapi dalam beberapa hal yang lain, Hegel juga menolak beberapa aspek agama Kristen. Misalnya, dia menolak doktrin Tuhan transenden yang melampaui alam dan sejarah. Baginya, yang absolut tidak dapat melampaui alam dan sejarah karena ia mewujud hanya di dalam dan melalui keduanya.
 
5. Kritik
Hegel sering disebut sebagai filosof yang paling sulit dipahami diantara para tokoh filsafat Barat yang lain. Dalam pandangan Hassan Hanafi diantara ”jasa-jasa” Hegel yang dapat digunakan untuk studi keislaman diantaranya adalah studi kritis kitab suci, agama sebagai ilmu humaniora, dan pandangan historisitas agama dengan penekanan terhadap unsur kemanusiaan alih-alih ketuhanan.[27]
Saran ini tentunya harus dibaca secara kritis karena tidak semua unsur hegelian dapat diterima dalam studi keislaman. Misalnya, apa yang diakui oleh Karl Marx  sebagai sumbagan terbesar Hegel, yakni pemahamannya tentang karakter pemikiran manusia yang terkondisikan secara historis,[28] tidak dapat serta merta diterapkan dalam studi-studi keislaman maupun untuk memahami Islam secara umum.
Hal ini, secara umum, merupakan tipikal pemikiran Barat yang ditandai dengan penekanan terhadap proses kesejarahan yang mengakibatkan relativisasi nilai.[29] Hal ini terlihat misalnya dalam ”penyelewengan” yang dilakukan Karl Marx. Alih-alih menjadikan spirit sebagai sentral dialektikanya, sebagaimana konsep yang digagas Hegel, Mark memilih menjadikan materi sebagai faktor utama dalam dialektikanya, yang kemudian dikenal dengan materialisme dialektik yang menjadi dasar materialisme historis yang dibangunnya.[30] Dengan demikian, secara umum, filsafat Barat, pasca Pencerahan, dimana Hegel adalah salah satunya, ditandai dengan pemusatan terhadap faktor manusia, dalam aspek rasionalitas maupun intuitif—yang dipahami dalam konteks Barat.
 
6. Penutup
Hegel dengan sistem filsafat yang dibangunnya berpengaruh pada dunia Barat, bukan dalam bentuknya yang ’murni’, tapi justru unsur-unsur idealisnya dihapus dengan tetap memertahankan konsep dialektika yang ditawarkannya. Dalam pemikiran kontemporer, Hegel dikaji dalam tiga wilayah kajian. Pertama, yang memahami Hegel dalam konteks filsafat pemikiran dan epistemologi. Model kajian pertama ini tidak terlalu berpengaruh dalam konteks filsafat pemikiran secara umum. Bentuk kedua kajian Hegel adalah kajian estetika yang, seperti dalam ranah epistemologi, tidak mendominasi wacana estetika secara umum. Dataran ketiga dimana Hegel dikaji adalah teori etika, sosial dan politik. Dalam bidang ini, pengaruh Hegel terasa lebih kuat dibanding dua wilayah kajian pertama.[31]
Usaha Hegel untuk melepaskan diri dari ”kungkungan” Kant dan merehabilitasi metafisika rasional dengan absolutismenya ternyata gagal menemukan pengaruhnya di wilayah filsafat dan pemikiran dengan peralihan ke zaman pasca modern yang dikenal dengan anti sentralitasnya. Alih-alih, pemikirannya dalam bidang politik berpengaruh dalam tatanan politik di Eropa seabad kemudian.
 
 

endnotes:
[1] Nicholas Bunnin & Jiyuan Yu, The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, (Oxford: Blackwell Publishing, 2004), h. 322.
[2] Wilbur Long, Idealism, dalam Dagobert D. Runes, The Dictionary of Philosophy, (New York: Philosophical Library, tt), h. 136
[3] Nicholas Bunnin & Jiyuan Yu, op. cit., h. 323.
[4] A. Pablo Iannone, Dictionary of World Philosophy, (London & New York: Routledge, 2001), h. 251.
[5] Wilbur Long, op. cit., h. 136-137.
[6] A. Pablo Iannone, op. cit., h. 251-252.
[7] Informasi biografis tentang Hegel berasal dari http://en.wikipedia.org/wiki/Hegel
[8] Frederick Beiser, Hegel, (New York & London: Routledge, 2005), h. 15.
[9] Frederick Beiser, ibid., h. 16-17.
[10] F. C. Beiser, Hegel and Hegelianism, dalam Gregory Claeys (ed.), Encyclopedia of Nineteenth-Century Thought, (London & New York: Routledge, 2005), h. 258.
[11] Thomas E. Wartenberg, Hegel’s Idealism: The Logic of Conceptuality dalam Frederick C. Beiser, The Cambridge Companion to Hegel, (Cambridge: Cambridge University Press, 1993), h. 102.
[12] Thomas E. Wartenberg, ibid.
[13] F. C. Beiser, op. cit., h. 259.
[14] G. W. F. Hegel, Science of Logic, h. 154-155 dikutip dari Thomas E. Wartenberg, ibid., h. 105.
[15] Disini penulis memilih menggunakan kata idea, alih-alih ide, sebagai terjemahan kata idea untuk mempermudah pembedaan antara ide dalam konsep filosof pra-Hegel dan idea dalam konsep Hegel.
[16] G. W. F. Hegel, The Logic of Hegel h. 213.dikutip dari Thomas E. Wartenberg, ibid., h. 105.
[17] G. W. F. Hegel, Phenomenology of Spirit, terj. A.V. Miller, (New York: Oxford University Press, 1977), h. 11.
[18] F. C. Beiser, op. cit..
[19] F. C. Beiser, ibid.
[20] Thomas E. Wartenberg, ibid. h. 113-114.
[21] F. C. Beiser, op. cit.
[22] Thomas E. Wartenberg, ibid. h. 110.
[23] F. C. Beiser, op. cit. h. 261.
[24] Hans-Georg Gadamer, Hegel’s Dialectic Five Hermeneutical Studies, terj. Christopher Smith, (New Haven & London: Yale University Press, 1976), h. 7
[25] F. C. Beiser, op. cit. h. 262.
[26] Anthony Kenny, An Illustrated Brief History of Western Philosophy, (Oxford: Blackwell Publishing, 2006), h. 302.
[27] Hassan Hanafi, Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab, (Kairo: al-Dar al-Fanniyah, 1991), h. 366-367.
[28] Ted Honderich, The Oxford Companion to Philosophy, (New York: Oxford University Press, 2005), 367.
[29] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), h. 16.
[30] Dr. Jamil Saliba, Al-Mu’jam al-Falsafi, (Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnani & Maktabah al-Madrasah, 1982), v. I, h. 394.
[31] Fred Rush, Hegelians-Young and Younger, dalam Espen Hammer (ed.), German Idealism: Contemporary Perspective, (London & New York: Routledge, 2007), h. 93-94.

DAFTAR BACAAN

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC. 1993
Beiser, Frederick C. The Cambridge Companion to Hegel. Cambridge: Cambridge University Press. 1993.
—. Hegel. New York & London: Routledge. 2005.
Bunnin, Nicholas & Jiyuan Yu. The Blackwell Dictionary of Western Philosophy. (Oxford: Blackwell Publishing. 2004.
Claeys, Gregory (ed.). Encyclopedia of Nineteenth-Century Thought. London & New York: Routledge. 2005.
Gadamer, Hans-Georg. Hegel’s Dialectic Five Hermeneutical Studies, terj. Christopher Smith. New Haven & London: Yale University Press. 1976.
Hammer, Espen (ed.). German Idealism: Contemporary Perspective. London & New York: Routledge 2007.
Hanafi, Hassan. Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab. Kairo: al-Dar al-Fanniyah. 1991.
Hegel, Georg Wilhelm Friedrich. Phenomenology of Spirit. Terj. A. V. Miller. New York: Oxford University Press. 1977.
Honderich, Ted. The Oxford Companion to Philosophy. New York: Oxford University Press. 2005.
Iannone, A. Pablo. Dictionary of World Philosophy. London & New York: Routledge. 2001.
Kenny, Anthony. An Illustrated Brief History of Western Philosophy. Oxford: Blackwell Publishing. 2006.
Runes, Dagobert D. The Dictionary of Philosophy. New York: Philosophical Library. tt.
Saliba, Jamil. Al-Mu’jam al-Falsafi. Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnani & Maktabah al-Madrasah. 1982.
http://en.wikipedia.org/wiki/Hegel

  1. Many thanks for composing “utawi Hegel iku Idealisme Absolut
    | i love silence”. I personallymay really wind up
    being coming back for even more reading and commenting here in the near future.
    With thanks, Rolland

  2. You truly made a number of fantastic items within your blog, “utawi Hegel iku Idealisme
    Absolut | i love silence”. I may become heading back to your blog eventually.
    With thanks ,Jasmine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: