Robbani

Archive for the ‘Pesantren’ Category

سنتري وطالب جامعي

In Bahasa Arab, Kuliah, Opini, Pesantren on Maret 9, 2008 at 8:58 am

لم أكن محدّدا كلمة سنتري—في هذه الكتابة—بمعناه الضيق كما عرفه جرتز في كتابه “الدين الجاوي” الذي هو—كما في تعريفه—احد العناصر في ثلاثية المجتمع الجاوي، ولم أكن مدعيا ايضا معنى سنتري كما بيّنه احد المشايخ أنه—بزيادة أل التعريف—من يعتصم بحبل الله المتين، الى اخر ما قاله (لمزيد المعرفة على هذا التعريف الاخير، اضغط هنا)
وإنما أريد هنا معناه السهل الواسع. وهو من تعلّم—او لم يزل متعلما—في المعاهد الاسلامية—التي تعرف بأرض جاوه باسم فسانترين—وفي نفس الوقت هو اعتبر نفسه سنتريا.
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Gus dan Cinta

In Cinta, Kuliah, Lora n Gus, Opini, Pesantren, Wanita on Februari 26, 2008 at 12:20 pm

Tulisan ini ingin saya buat ketika saya membaca sebuah bagian menarik dari buku Greg Barton tentang biografi Gus Dur. Untuk lebih memperjelas bagian yang ‘memancing’ tulisan ini, ada baiknya saya kutipkan satu bagian itu saja. Bagian itu berbunyi “Terlebih lagi, ia tinggal dalam suatu dunia keagamaan yang secara nyata tidak menyetujui pemuda-pemuda yang cemerlang untuk bercinta dalam usia muda.” Selanjutnya, yang juga mengusik tulisan ini untuk muncul, Barton menulis, “Boleh dikatakan, semangat pemberontakan yang ada dalam dirinya disalurkan lewat kedekatannya yang sangat singkat dengan Islam radikal.”
Ada hal menarik yang-mungkin-spontan menarik perhatian saya dari dua bagian dari buku Barton itu. Hal itu adalah dunia keagamaan (dalam konteks ini adalah pesantren tradisional), pemuda-pemuda yang (dianggap) cemerlang (atau setidaknya berpotensi untuk hal itu), cinta (ada yang perlu definisi ), dan usia muda. Kemudian yang menarik dari kutipan bagian kedua adalah semangat pemberontakan jika dikaitkan dengan hal-hal yang tadi disebut.
Baca entri selengkapnya »

Kuliah di Perguruan Tinggi

In Indonesia, Kuliah, Opini, Pesantren on Januari 22, 2008 at 5:17 am

Melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, bagi sebagian besar masayarakat Indonesia, apapun latar belakang sosialnya, kini, telah menjadi sejenis keharusan. Entah bagaimana, hal ini seolah-olah menjadi suatu hal yang begitu tak terhindarkan saat ini. Dalam beberapa kasus, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berarti usaha penjaminan masa depan setidaknya dari dua segi, finansial dan sosial. Yang pertama berarti bahwa dengan memasuki perguruan tinggi—khususnya yang bersifat keahlian—seseorang akan diharapkan untuk memiliki keahlian yang kelak akan menjamin masa depannya kelak. Dari segi sosial, menjadi seorang mahasiswa memiliki dampak yang yang tidak sedikit bagi masyarakat kita, karena, entah begaimana, dia dianggap sebagai orang terdidik yang memiliki ’kelas tersendiri’ di tengah masyarakat.
Baca entri selengkapnya »

Aristokrasi Pesantren?

In Aristokrasi, Lora n Gus, Pesantren on November 10, 2007 at 2:50 pm

Telah banyak tulisan terkait dengan pesantren dari berbagai aspeknya. Namun ada sebuah fenomena menarik dalam tradisi pesantren yang tampaknya luput dari perhatian. Padahal, tradisi ini, saya pikir, tidak kalah penting dan menarik untung dibicarakan, mengingat keterkaitannya dengan orang yang secara tradisional diharapkan melanjutkan tradisi kepesantrenan. Fenomena dimaksud adalah pengistimewaan terhadap anak kyai. Dalam tulisan ini, hal itu dibicarakan secara sangat mendasar dan mentah. Tulisan ini hanya berusaha mengumpulkan informasi yang seringkali tidak utuh dan karenanya belum memenuhi standar ilmiah.
Baca entri selengkapnya »

Pesantren dan Suksesi Kepemimpinan

In Opini, Pesantren on Juli 31, 2007 at 12:52 pm

Pesantren, dalam sejarahnya, tidak lepas dari sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren menjadi lembaga ’penyedia’ penerus estafet dakwah Islam. Sebagai pusat penyebaran Islam—untuk menyebutnya demikian—peran utama pesantren terletak terutama pada kemampuannya untuk mengenalkan Islam pada masyarakat luas. Dalam ’pemasyarakatan’ Islam, ia terbilang cukup berhasil. Bahwa mayoritas masyarakat Indonesia, terutama masyarakat pedesaan, berislam dengan ”Islam pesantren” kiranya cukup menjadi bukti keberhasilan islamisasi ala pesantren.
Baca entri selengkapnya »